-Ilustrasi pamit-

Baiklah, aku akan mengiyakan sebuah kata pamit yang tak bertuan. Melirik waktu hanya untuk lima huruf berawal -p- dan berakhir indah pada huruf -t-

Mudah ya? -p-a-m-i-t-

Aku tak menyuruhmu menjadi anak sekolah dasar hanya untuk mengeja kata tak bertuan itu. 

Aku hanya mengilustrasikan sebuah kepergian tanpa ada ucapan kata. Lirik anginpun tak mendukung untuk mengetarkan ucapan itu pada gendang telinga. 

Aku hanya menerima imajinasi kosong tak bertuan. 

Jangan memahamkan kataku, ilustrasi ini hanya ku adegankan sendiri. 

———–

Pemandangan 2317

-Pak kita sekiri-

Kali ini ada yang berbeda tatkala saya menghadiri seminar proposal teman sekampus tapi beda fakultas. Dengan gaya saya yang mencoba cuek ditengah keasingan dari wajah-wajah baru. Menyamankan diri senyaman mungkin. Ah seru ya menjadi orang yang tak peduli apapun kata orang, padahal yang kita asumsikan kadang tak sepenuhnya benar. 

Setelah masuk ruang seminar saya malah kebagian kursi pas didepan para dosen penguji, syok sih tapi ah sudahlah wong juga mereka nggak bakalan kenal wanita bertirai. Sayapun mencoba senyum sinis pada diri sendiri. Wkwkwk

Akhirnya saya mendengar persentasi cerita proposalnya, dan cukup menarik tentang eceng gondok.  Bagaimana menganalisa kandungan nutrisi yang kiranya cocok dijadikan sebagai pakan ternak. Skip saya pengen bertanya ah lagi-lagi canggung memelas -jangan-

Sayapun akhirnya minta persetujuan teman disamping melalui  whatsapp (jarak saya dan teman itu sebenernya dekat, wkwkwk) oke persetujuan deal saya boleh bertanya, dan akhirnya pertanyaan sayapun keluar, gkgkgkgk..

Tetiba menunggu pertanyaan saya dijawab, pandangan saya kearah salahsatu dosen yang sedang menulis, jleeeeeb, syok, apalagi? 

Wow pak dosen menulis pakai tangan kiri, saya jadi ingin bersorak “pak aku pak pakai tangan kiri, kita sekiri lho pak” 

sayangnya rencana itu digagalkan sebab seminar itu sesuatu yang formal, apakah saya akan sefrontal itu untuk menyuarakan hati saya bahwa dosenpun juga sama dengan saya, wkwkwkwk

——

Pemandangan 2117 H-9 untuk mengakhiri pembahasan skripsi

-Dibuat ambigu-

“Sedikit memelas rindu, ingin bertemu pada mekar yang berpadu sayang tak temu, binggung menyatu. Hilang tak ingin, mendoa penuh penuh. Bagaimana?”

Ternyata temu seperti berbalas doa, namun singkat saja, tak sengaja. Penuh penuh mendoa, lalu ?

Singkat cerita malu-malu tapi hengkang , depan jadi rusuh gengsi jadi benalu.

Sudahlah rindu, biar berpadu pada waktu penuh-penuh men-(doa) lagi.



Ini Lembar (an?) 

Disini ada saksi bahwa saya pernah menginjakkan kaki pada tepi pantainya, memasuki semak-semak dipinggir jalan, dekat bebukitan. Lagi lagi tentang “wanita pemetik bunga bergetah”.

 Baik kali ini berbeda dari –hari kemarin- Hari ini deru sang hujan menemani, tak ada gerimis tetiba hujan. Tak apa kataku,  hujannya tenang mendamaikan memoar tapi sayang untuk basah tak ingin, memilih berteduh menikmati bersama hujan sambil memetik bunga bergetah. Langitpun cerah senyum simpul sambil berdendang pada alam, cukup hujan tadi untuk dikenang bukan tinggal untuk kembali nyaman.

Maksudmu hujan? Bukan.

Hari Kemarin

Di pantai ini saya masih berkutat ria dengan penelitian yang belum usai, ombaknya masih sama tak reda-reda. Pohonnya termangu melihat wanita pemetik bunga bergetah. Duhai langit kuabadikan dengan senyum simpul dan menjadikan saksi bahwa pijakan langkah pernah ada dibawah sini.

Anginbukankamuombakbukanaku itu hanya –hari kemarin