Maaf pertemuan kita kurang elegan!

Aku mendapati bahwa pertemuan itu menciptakan peran yang indah, entah bertemu keluarga, sahabat, dan orang lain. Meski orang yang tak dikenal sekalipun. Apalah daya pertemuan sekarang menjadi kurang elagan bahkan menyakitkan!

Maksudmu?

“jawabku datar, sekarang ditanganmu membawa sesuatu kan?”

Iya, lalu?

“Benda itu membuat pertemuan kita menjadi kurang elegan!”

Aku semakin tak paham.

“Kamu sibuk dengan benda itu, lalu  kamu berpetualangan menjelajahinya, sementara ragamu ada dihadapanku. Lalu pertemuan ini menjadi kurang elegan bahkan menyakitkan”

Handphone?

“iya, handphone dengan seperangkat mas kawin dan alat sholat


Tafstirkan aku dan kamu pada banyak pertemuan manusia  jangan ada kesalahpahaman.

cukup sekian semoga pertemuan kita “Menjadi Elegan”

 

Advertisements

-Mendadak jalan-

Ahad kemarin saya memang sudah berencana menemani seorang kawan untuk mencari bahan penelitian di daerah utara dari kota rantauan saya. saya pikir hanya berdua, ternyata ada dua kawan lagi menemani.

Berangkatlah dengan seala kadarnya. Matahari menunjukkan keterikannya, suasana mulai memanas, tetiba kawan berkata ” yuk kita mampir dirumah Naufali, kita makan sekalian istirahat” cetus saya semoga banyak jajan.

Ternyata jarak rumah teman kami cukup jauh, perjalanan hampir satu jam dari daerah bukit yang kami singgahi.

Sepanjang jalan saya selalu menikmati alam dengan mengingat sebuah memoar, ah sudahlah bungkusan kenangan biarlah menjadi usang, dan terniang sebuah kata untuk membenci sebuah rindu.

Sesampai di rumah Naufali seperti biasa dihidangkan jajan dan akhirnya kami pula makan siang, seperti yang diharapkan sebelumnya.

Eh kita ke air terjun yuk, ada rumah pohon, pemandangannya bagus, dekat kok dari sini” Cetus pemilik rumah

Tempat yang dimaksud sering sekali saya melihat unggahan diberbagai kesempatan. Tapi tak ada terbesit untuk memasukkan dalam daftar rekreasi, karena memang saya bukanlah hobi traveling jadi kalau keluar rumah memang karena ada keperluan. Jikapun pergi mengunjungi suatu tempat karena memang kesempatan yang diserempetkan dengan keperluan lain. Jadi kadang tidak murni untuk rekreasi.

saya menyadari bahwa jika seorang manusia yang membuat berbagai macam rencana, jikalau takdir tak mengizinkan rencana itu akan digagalkan sedemikian rupa. Sebaliknya, jika tak ada rencana tapi takdir malah memojokkan untuk melalui sebuah jalan pasti akan terjadi.

Mungkin pembahasan ini swmua orang sangat sadar, dan mungkin banyak yang akan bosan membaca kalimat saya itu.

Namun kemarin saya merasa heboh dengan diri sendiri, saya memikirkan hidup dan apa yang terjadi dalam detik waktu yang masih Allah izinkan untuk hidup. Allah begitu dan sangat baik membuat saya sadar bahwa hidup itu bukan semau kata, sudah ada jalan yang ditunjukkan tinggal memilih mau hidup setalah kematian akan berakhir di fase mana

Syurga atau neraka-

Sesampai ditempat ketinggian dan melihat air terjun –wow, amazing-

Mungkin para pendaki gunung sudah biasa melihat keindahan alam yang dipaparkan dihadapan mata sejauh memandang. Saya? Yang sering ngerep dirumah liat beginian heboh atuh, akunya sih yang lebay..

——

Terimakasih untuk hari kemarin kawan.

*Catling Mendadak*

“Mba sudah kerja ya?”

Oh iya, saya sudah kerja, jadi pegawai negeri.

“Wah beruntung ya mba ini (dalam  hati*cling)”

“Mba-mba kerja dimana?”

Hening. Saya belum kerja mba, m m m lanjut S2.

“S2 itu pelarian karena nggak dapet kerja ya? (dalam hati lagi)


Bahasa puitis hilang kalau sudah bahas kerja, bukan beban tapi seperti sebuah musibah besar, duh maaf bukan musibah tepatnya sebuah sirkulasi tuntutan  didunia untuk bertahan hidup memenuhi sandang dan pangan.

Seperti kekusutan sebuah pintalan benang, rumit!

Untuk sebuah formalitas kekerenan,”remaja” yang setelah lulus SMA sederajat masuk ke sebuah universitas lebih  dihormati dan dibanggakan oleh sebagian besar pihak dibanding mereka yang bekerja banting waktu.

Entah banyak argumen akan dikemukakan berbagai pihak , setuju tidak setuju bagi saya hal yang tidak merugikan juga.

Saya yang merasakan dunia perkuliahan berada di sebuah universitas terkadang membanggakan diri bahwa saya adalah sosok terpelajar, kedudukan lebih tinggi. Duh betapa riya’nya saya. Jika pembanggaan ini muncul saya melempar sejauh mungkin, “kamu ini sosok yang sedang Allah titipkan untuk menggali ilmu, kamu hanya jiwa yang sedang diuji seberapa besarnya sebuah iman dan kecintaan kepada Allah ketika ilmu itu tinggal kau genggam, lantas setelah ilmu kau genggam apa kau menjatuhkan martabat manusia lain dengan anggapan bahwa kau lebih mulia?”


Hati saya serasa retak, digoncang pada kenyataan bahwa dunia ini bukan ekspektasi yang menomor satukan hidup!


Beralih pada *catling* saya mendadak menjadi sosok pekerja. Sepertinya pembaca binggung dengan *catling*.

Maafkan saya atas ke alay alay-an saya dalam menyebut kata *katering* sebuah usaha dalam makanan.

Duh setelah rampung sebuah penelitian tapi gagal wisuda Allah mengijinkan saya mendapat rezeki dari catling mendadak. Saya bukan ahli dalam masalah masakan enak ataupun jajan men jajan. Tapi temen sekampus mempercayakan saya hal ini untuk mengurusinya. Saya menjadi mahasiswi terempong setiap pagi selepas shubuh jika ada pesanan datang. Membeli segala yang dibutuhkan customer. Jika telah usai saya juga sebagai pengantar jajan sampai meja acara -delivery-

Setelah menjalani aktivitas ini hampir 2 bulan ini, saya merasa bahwa dunia kerja itu super melelahkan, jika ditanya tentang keuntungan Alhamdulillah tidak banyak tapi cukup untuk keperluan sehari-hari.  Tidak mudah mendapat uang logam 500 rupiah pun jika murni hasil kerja sendiri. Saya membayangkan dunia bisnis yang sedang orang lain jalani dengan jatuh bangun bahkan rugi bermiliyaranpun ada. Itu hidup, jatuh bangun wajar!

Memulai usaha bisnis ternyata bukan segampang dirasa, saya harus banyak mengelus dada, banyak bersyukur atas kemudahan dan ikhlas atas kehilangan , hilang maksudnya disini adalah kerugian dan kemudahan dalam artian keuntungan.

 

Wajar jika ada pertanyaan yang susah dijawab “anda kerja dimana?”

Sesusah pertanyaan “anda kapan wisuda?”  hufttttt….

Mungkin lebih susah pertanyaan pertama kali ya?

Ditulisan ini saya cukupkan saja pembahasan kata “wisuda”

Cukup krik krik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pulau pencitraan?

Saya sebenarnya binggung mau menggawali percakapan ini seperti apa. Entah dengan sisi pembahasaan melankolis, kritis, atau biasa saja tanpa ekspektasi yang bagaimana. Tapi entahlah ketikan di aplikasi wordpress rasanya menggelitik untuk diangkat sebagai sebuah pembahasan tentang pulau pencitraan.

Apa ini dramatis sekali?

Saya mengaku bangga dengan dibangunnya islamic centre di pulau yang dijuluki seribu masjid ini, masyaallah megah dan elegan. Apalagi jika diatasnya diwarnai bias senja. Keren euy, pesonanya sampai terpanah asmara maksudnya dengan konspirasi langit pada megahnya arsitektur masjid. 

Ikon baru pulau ini menjadi favorit untuk berselfi ria. Membuat sejarah bahwa seseorang pernah berada disana dengan bidikan segala macam merk handphone atau kamera ternama ala-ala   fotger . Tak bisa ditepis juga saya termasuk bagian didalam mengabadikan sejarah itu.. Wkwkwk

Kamu juga kah?? Wkwkw
Sesuai dengan namanya, masjid disini sangat mudah ditemukan, jalan sedikit ketmu masjid, eh dekat pengkolan juga masjid. Dimana mana masjid.. Keren ya. Ya gambaran secara umumnya begitu. 

Tapi bagi saya apa itu termasuk pencitraan dengan kata “pulau seribu masjid”  ? Ya secara logika dan fakta dilapangan memang benar tapi kalau sy ubah jadi “seribu masjid tapi seribu pemuda lari dari masjid” ?

Jangan deh seribu atau sepuluh ribu pemuda yang lari?

Argumen dibuat atas fakta dan data.  Lagi lagi saya dibuat ambigu dengan argumentasi saya sendiri. Terkadang masjid hanya diisi oleh laki-laki tua renta. Lalu laki-laki dengan katanya enerjik berpetualang sampai mendaki gunung lewati lembah pada kemana? 

Duh maaf bahasa saya jadi tragis, mereka memilih bereforia dijejalanan sementara suara panggilan sholat oleh muadzin diabaikan. 

Pencitraan kan?

Duh cukup sekian celotehan saya. Sisanya cuman pertanyaan, semoga tulisan saya juga bukan pencitraan.

“kemesraan 1/4 jalan”

Saya tipe orang yang suka berbicara sendiri saat berkendaraan. Mengekspresikan bahasa dengan melankolis, apapun kondisi jalan, saya tetap pada pendirian -curhat dijalanan-

Bukan bermaksud menunjukkan saya adalah orang gila atau sejenisnya. Ini hanya kebiasaan yang baru disadari beberapa tahun lalu. Saya masih waras, tingkat kewarasan saya masih diambang normal. 

Saya baru sadar efek eforia berbicara sendiri menimbulkan wajah wajah pengguna jalan lain memacingkan mata, memandang kearah saya dengan gelagat heran. 

Hanya saja di jalan ada para si gagah nan tegap melabilkan kebiasaan saya, sebab saya tau maksud mereka, bukan untuk melarang kebiasaan saya, tapi meminta selembar surat kepemilikan motor beserta kelengkapan atribut berkendara. 

Bicara tentang para si tegap dan gagah saya punya histori mengesankan. Pernah suatu waktu saya menjadi pembalap liar, ini hanya respon mendadak seketika melihat mereka berdiri ditengah jalan. Saya masuk dalam perangkap, ketakutan saya menjadi jadi, karena waktu itu saya belum memiliki -S-I-M. Pak tegap siap mengarahkan ke tepi jalan, jarak saya cukup dekat sehingga pak tegap dapat memegang motor yang saya kendarai. Tetiba tanpa pikir panjang saya banting -stir- eh stir? (dipahamkan sendiri)  saya kabur, menarik gas sekencang mungkin, Mereka meneriaki saya dengan keras. Entah apa yang terjadi, saya berhasil lolos dalam zona merah. Mungkin jika orang yang mengenal saya tidak percaya bahwa saya pernah menjadi –pembalap-

————

Sebenarnya bukan  ini inti pembicaraan saya, kemesraan 1/4 jalan itu menjadi bagian lain dari cerita jalan yang  dilalui dipulau seribu masjid ini.

Bukan saya yang memiliki cerita, tapi sosok lelaki dan seorang gadis kecil yang sudah beberapa kali terekam dalam penglihatan saya. Mereka hanya berdua menikmati jalan begitu mesra sebagai sepasang ayah dan anak. Mereka bukan pengendara mobil ataupun motor, bukan pula sepeda ontel yang tua. Mereka pejalan kaki yang setia tanpa alas kaki. Berbaju lusuh dan karung dipundak. Sosok kecil nan mungil  yang digandeng tangan sang ayah.

 –Mesra- 1/4 jalan serasa milik mereka berdua.